Kecamuk COVID-19 di Eropa Memanas, WHO Memperingatkan Angka Kematian Bertambah 500.000 Orang

22
Kecamuk COVID-19 di Eropa Memanas, WHO Memperingatkan Angka Kematian Bertambah 500.000 Orang

 (Taiwan, ROC) — Sejak awal musim gugur, kecamuk COVID-19 di Eropa terus meningkat. Jerman pada tanggal 4 November kemarin, mencatat angka tertinggi kasus harian COVID-19. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan, ke depannya mungkin akan bertambah sebanyak 500.000 kasus kematian akibat epidemi di seluruh Eropa.

Pada saat prediksi menakutkan ini dikemukakan, Inggris menjadi negara pertama di dunia yang menyetujui penggunaan obat oral COVID-19 Merck. Amerika Serikat (AS) mengumumkan peraturan baru yang ketat, yakni meminta pihak perusahaan mewajibkan para karyawan untuk divaksinasi. Negara-negara di seluruh dunia juga tengah bekerja keras untuk menghindari gelombang virus musim dingin yang mematikan lainnya.

Seiring meningkatnya jumlah infeksi di Eropa, Michael Ryan, selaku Direktur Eksekutif Program Darurat Kesehatan Masyarakat WHO memperingatkan, "Meskipun ada vaksin yang tersedia untuk divaksinasi, namun lihatlah apa yang tengah terjadi di Eropa. Menurut saya, ini merupakan sebuah peringatan bagi dunia”.

Menurut data yang dirilis oleh Robert Koch Institute (RKI), jumlah kasus harian di negara-negara berpenduduk terpadat di Uni Eropa telah mencapai angka tertinggi baru. Dalam 24 jam terakhir, hampir 34.000 orang telah terinfeksi.

Dalam satu hari dilaporkan ada 6.310 orang yang terkonfirmasi di Kroasia, ini juga merupakan rekor jumlah kasus harian tertinggi bagi mereka. Selain itu, jumlah kasus harian di Rusia dalam beberapa pekan terakhir juga telah berulang kali mencatat rekor baru.

Hans Kluge, selaku Direktur WHO Wilayah Eropa, menyatakan “keprihatinan serius” akan meningkatnya epidemi COVID-19 di Eropa. Dirinya memperingatkan, “menurut prediksi yang dapat diandalkan, berdasarkan trayektori saat ini hingga bulan Februari tahun depan, maka akan bertambah 500.000 kasus kematian akibat epidemi.”

 “Kita sekali lagi berada di pusat epidemi”, tutur Hans Kluge. Beliau menyampaikan, Hal ini terutama disebabkan karena cakupan vaksin yang tidak memadai, kesehatan masyarakat, serta penerapan langkah-langkah pencegahan epidemi sosial yang melonggar.

Menurut statisik yang dirilis media AFP, selama beberapa minggu ini, jumlah kasus yang dikonfirmasi di Eropa setiap harinya terus meningkat, dengan total mencapai sekitar 250.000 kasus. Jumlah kasus kematian juga turut meningkat, setiap harinya rata-rata terdapat 3.600 orang yang meninggal akibat COVID-19 di seluruh Eropa.

AFP juga mewartakan, Rusia dalam 7 hari terakhir, dilaporkan ada lebih dari 8.100 orang yang meninggal setiap harinya, menjadikannya sebagai negara dengan jumlah kematian tertinggi. Setelahnya yakni Ukraina dengan total lebih dari 3800 orang, serta Rumania dengan total 3100 orang.

Sumber Berita:RTI
Editor:陳柏萇
Sumber: RTI