Varian BA.5 Berimbas Buruk Bagi Lansia

19
Varian BA.5 Berimbas Buruk Bagi Lansia

(Taiwan, ROC) – Beberapa hari yang lalu, Pusat Komando Epidemi Sentral atau CECC secara resmi mengumumkan bahwa pandemi virus COVID-19 mutasi varian BA.5 telah dimulai. Meskipun sebagian besar strain mutan saat ini hanya akan memberikan gejala ringan atau ada yang tanpa gejala, namun kelompok rentan seperti mereka yang memiliki daya kekebalan rendah dan lansia tidak dapat mengabaikan serangan yang berkemungkinan memberikan dampak gejala sedang hingga berat, yang di disebabkan oleh varian BA.5. Oleh karena itu, untuk kondisi lokal di Taiwan sedang menunggu "Vaksin generasi berikutnya" yang dapat mengatasi strain mutan yang akan diimpor masuk ke Taiwan. Namun, Dokter Jiang Guan-yu, seorang dokter di Rumah Sakit Zhongxing Taipei menjelaskan bahwa strain mutan ini benar-benar akan menyusahkan para lansia sepanjang hari di masa depan, bahkan bertahun-tahun, karena vaksin generasi berikutnya mungkin masih belum dapat menyelesaikan masalah ini.

 

Dokter Jiang Guan-yu menjelaskan bahwa daya kekebalan tubuh manusia saat menghadapi serangan virus mutasi, memiliki tiga tahapan, antara lain:

1. Konsentrasi Antibodi

Keefektifan vaksin jenis apa pun memiliki masa kedaluwarsa tersendiri. Dokter Jiang Guan-yu menyebutkan meskipun titer vaksin generasi berikutnya akan meningkat, semakin tua usia seseorang, maka akan semakin sedikit antibodi yang dapat menetralisirkannya. Faktanya, ketika dihadapkan dengan virus OMC (Omicron), usia rata-rata antibodi penetralisir tidak terdeteksi pada 43% dari kelompok berusia 63,5 tahun.

2. Memori Sel Jenis B

Untungnya dalam hal ini, seiring dengan bertambahnya usia, tidak akan memengaruhi sistem kerja yang dimiliki oleh Sel B atau B Cell. Tentu saja, vaksin penguat generasi berikutnya juga akan memperkuat bagian yang kurang. Namun, tantangan berikutnya adalah agar sel B mampu bekerja dan mencapai potensi kapasitasnya, mereka membutuhkan bantuan dari pihak lain, yakni sel jenis T atau T Cell.

3. Memori Sel Jenis T

Ini merupakan hal yang paling menyulitkan, baik apakah itu akan mematikan sel T atau memperkuat sel T, karena seiring dengan bertambahnya usia manusia, maka fungsi kelenjar timus manusia juga akan merosot, khususnya bagi yang berusia lebih dari 50 tahun adalah titik balik dari fungsi ini, dan degenerasi kelenjar timus juga merupakan bagian vaksin penguat generasi berikutnya tyang tidak dapat dibantu, sehingga setiap manusia harus memiliki persiapan mental yang baik. Jika masih ada gelombang serangan virus berikutnya, maka para lansia tetap harus berupaya melakukan perlindungan diri dengan baik.

 

Dokter Jiang Guan-yu mengatakan bahwa sebenarnya, dosis ke empat adalah untuk menebus konsentrasi antibodi dan mengurangi keparahan penyakit. Namun, meskipun ada vaksin generasi berikutnya, masih sulit untuk memanfaatkan memori sel T dengan baik, dimana ini juga menjadi masalah yang pelik yang kini dihadapi oleh Amerika Serikat. Pihak FDA Amerika tengah meninjau aplikasi yang diajukan oleh Pfizer dan Moderna, pertemuan ACIP yang digelar pada tanggal 1 dan 2 September untuk membahas kapan harus mengelola dan kualifikasi seperti apakah yang layak dan cocok untuk diberikan, termasuk apakah perlindungan akan memiliki masa efektif yang jauh lebih cepat berakhir dari yang diperkirakan sebelumnya. Untuk membuat konsentrasi antibodi memiliki periode perlindungan yang lebih lama dan melewati “Kutukan hanya berlaku selama 3 bulan”, mungkin masih juga diperlukan vaksin jenis semprot hidung, sehingga mampu memberikan perlindungan invasi pada saluran pernapasan bagian atas.

 

Selain itu, banyak pihak yang berpikir bahwa selama ada vaksin, maka akan memiliki perlindungan selama tiga bulan yang tidak akan terkalahkan. Namun, Dokter Jiang Guan-yu mengatakan, sebenarnya periode infeksi ulang dari strain mutan terus menyusut, maka masa perhitungan tiga bulan tidak lagi berlaku. Sebagian besar kasus infeksi berulang adalah 1 -2 bulan. Dan kasus yang dikonfirmasi juga cenderung kembali ke asimtomatik positif dalam waktu satu bulan, yang kemudian memperluas infeksi kepada komunitas.

 

Namun pada umumnya, ancaman terhadap anak-anak semakin berkurang. Dokter Jiang Guan-yu mengatakan bahwa pada kenyataannya, ketika OMC (omicron) menyerang, gejala sisa juga cenderung menurun. Meskipun tingkat infeksi anak-anak jauh lebih tinggi daripada orang tua, seperti selama tingkat cakupan vaksinasi dan infeksi sebelumnya mencukupi. Bahkan, anak-anak akan dibebaskan dari banyak ancaman lanjutan, namun tentu saja akan lebih merepotkan jika mereka tidak divaksinasi. Gejala sisa masih memiliki dampak yang lebih besar pada orang dewasa. Yang jelas, bagi kalangan lansia masih tetap akan menghadapi dampak serangan yang paling besar, dan semakin tua usia seseorang, maka akan menghadapi kesulitan yang lebih besar.

Sumber Berita:RTI
Editor:曾秀情
Sumber: RTI